Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Januari 2011

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api

Bagaimana mungkin kita bernegara
bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya ?
Bagaimana mungkin kita berbangsa
bila tidak mampu mempertahankan
Kepastian hidup bersama
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
Menyerahkan bandung kepada
Tentara inggris

Sajak Seorang Tua di bawah Pohon

inilah sajakku
seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas
dengan kedua tangan kugendongt di belakang
dan rokok kretek yang padam di mulutku

Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

Sajak Rajawali

sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

Sajak Pertemuan Mahasiswa

matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan

Sajak Orang Kepanasan

karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu .....
karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan .....
maka kita bukan sekutu

SAJAK ANAK MUDA

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

PAMPLET CINTA

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindukan wajahmu,
dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan

Nyai Dasimah

Nyai Dasimah,
yang lebat rambutnya, sudah lama tidak berjumpa,
kini kulihat, tetap saja kamu jelita.
Menggeleng-gelenkgan kepala dibawah lampu jalan,
kamu mengadu kepadaku,
ya ya ya ya
keadaan sudah berubah,
tentu saja,
pabrik-pabrik didirikan di desa,
orang desa menjual tanahnya
pergi ke kota menjadi gelandangan
ya ya ya ya
keadaan sudah berubah
bendungan yang didirikan ditumbuhi enceng gondok
pengairan malah berkurang
dan tenaga lsitrik hanya mampu dibeli oleh modal asing

Kesaksian

AKU MENDENGAR SUARA
JERIT HEWAN YANG TERLUKA
ADA ORANG MEMANAH REMBULAN
ADA ANAK BURUNG TERJATUH DARI SARANGNYA
ORANG-ORANG HARUS DIBANGUNKAN
KESAKSIAN HARUS DIBERIKAN
AGAR KEHIDUPAN BISA TERJAGA


Kembali

Delapan ratus kilo aku berlari
dan aku tetap melihat wajahmu terhina yang diingkari keadilan

aku berlari ke timur ke kota yang antik
delapan ratus kilo dari kamu
karena bimbang menempuh bimbang

Hutan Bogor

Badai turun di dalam hutan
Badai turun di dalam sajak-sajakku
Selalu sayang aku terkenang kepadamu

Hai, Kamu!

LUKA - LUKA DI DALAM LEMBAGA
INTAIAN KEANGKUHAN KEKERDILAN JIWA
NODA DI DALAM PERGAULAN ANTAR MANUSIA
DUDUK DI DALAM KEMACETAN ANGAN - ANGAN
AKU BERONTAK DENGAN MEMANDANG CAKRAWALA

GUGUR

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya


GERILYA

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang

Tuhan ku
wajah Mu membayang di kota terbakar
dan firman Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
anak menangis kehilangan bapak
tanah sepi kehilangan lelakinya
bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara

Doa Orang lapar

kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

Burung-burung Kondor

Angin gunung turun merembes ke hutan
lalu bertiup diatas permukaan kali yang luas
dan akhirnya berumah didaun-daun tembakau
kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para tani buruh
yang tepacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya

AKU TULIS PAMPLET INI

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng - iya - an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan