Mbah Jo dirawat di rumah sakit. Menurut dokternya, asmanya sudah kronis hingga perlu di pasangi selang oksigen. Sudah beberapa hari dia tidak bicara dan seperti orang koma.
Dikira sudah menjelang ajal, anaknya memanggilkan seorang tukang do'a bernama Pak Mudin untuk mendoakan & membimbing Mbah Jo.
Selagi Pak Mudin asyik berdoa, tiba-tiba Mbah Jo menggap-menggap tidak bisa bernapas, mukanya pucat,
tangannya bergetar.
Dengan bahasa isyarat Mbah Jo minta diambilkan kertas dan alat tulis. Dengan sisa-sisa tenaganya Mbah Jo menulis surat kemudian diberikan kepada Pak Mudin.
Sambil terus berdoa Pak Mudin langsung menyimpan surat tersebut tanpa membacanya karena pikirnya tidak tega membaca surat wasiat tersebut di depan Mbah Jo yang tengah sekarat.
Akhirnya, tak lama kemudian Mbah Jo meninggal dunia.